cacar air

Cacar Air : Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatannya Tinggalkan komentar

Cacar air atau Varicella simplex adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus varicella-zoster yang mengakibatkan munculnya ruam kulit berupa kumpulan bintik-bintik kecil baik datar maupun menonjol.

Gejala Cacar Air

Setelah 10 sampai 21 hari terinfeksi virus cacar air muncul gejala penyakit seperti sakit kepala, demam sedang dan juga rasa tidak enak badan.

Setelah 2 atau 3 hari muncul bintik merah datar yang disebut macula, lalu menonjol yang disebut papula, kemudian muncul cairan yang gatal yang disebut vesikel, dan akhirnya mengering sendiri. Proses ini berulang sampai 4 hari.

Gejala cacar air muncul setelah 10 hingga 21 hari tubuh terpapar virus Varicella. Gejala cacar air ditandai dengan:

  • Demam
  • Pusing
  • Lemas
  • Nyeri tenggorokan
  • Selera makan menurun
  • Ruam merah, yang biasanya berawal dari perut, punggung, atau wajah, dan dapat menyebar ke seluruh tubuh. Ruam tersebut berwarna merah, kecil, dan berisi cairan. Kemunculan ruam ini terjadi secara bertahap dan bertambah banyak selama 2 hingga 4 hari.

Terdapat 3 tahap perkembangan ruam sebelum mencapai tahap penyembuhan. Tahap tersebut berupa:

  • Ruam merah menonjol
  • Ruam mejadi seperti luka lepuh berisi cairan (vesikel), yang dapat pecah dalam beberapa hari
  • Luka lepuh yang pecah menjadi kerak kering, dan dapat hilang dalam waktu beberapa hari.

Ketiga tahap perkembangan ruam cacar air dalam tubuh tidak berlangsung dalam waktu yang bersamaan. Ruam baru bermunculan secara terus-menerus selama masih terjadi infeksi, dan baru mereda hingga hilang sepenuhnya dalam waktu 14 hari.

Kondisi lebih parah dapat terjadi pada penderita dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau bayi baru lahir, di mana penyebaran ruam dapat semakin luas. Selain itu, penderita dalam kondisi tersebut juga perlu memperhatikan tanda-tanda terjadinya komplikasi, di antaranya:

  • Ruam menyebar pada satu atau kedua belah mata
  • Warna ruam menjadi sangat merah dan hangat, yang menunjukkan terjadi infeksi bakteri sekunder
  • Ruam diikuti keluhan pusing, disorientasi, detak jantung yang cepat, napas pendek, tremor, kehilangan koordinasi otot, muntah, batuk yang semakin parah, leher kaku, atau demam melebihi 39 derajat Celsius.

Penyebab

Cacar air disebabkan oleh virus Varicella zoster yang bisa menular dengan sangat mudah dan cepat. Infeksi virus ini bisa menyebar melalui udara saat penderita batuk atau bersin, dan kontak langsung dari lendir, air ludah, atau cairan dari luka lepuh. Penularan ini terjadi pada dua hari sebelum ruam muncul hingga seluruh kerak kering pada luka hilang.

Sejumlah kondisi dapat menyebabkan seseorang rentan mengalami cacar air. Di antaranya adalah:

  • Belum pernah terkena cacar air
  • Belum menerima vaksin cacar air, terutama ibu hamil
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya karena menderita HIV, menggunakan obat kortikosteroid, atau menjalani kemoterapi
  • Bekerja di tempat umum, seperti di sekolah atau rumah sakit
  • Bayi yang baru lahir dari ibu yang yang belum divaksinasi cacar air
  • Berusia di bawah 12 tahun.

Diagnosis

Diagnosis cacar air dapat ditetapkan dokter melalui pemeriksaan fisik, terutama dengan melihat kondisi ruam pada tubuh penderita. Di samping pemeriksaan fisik, dokter juga dapat melakukan tes darah untuk memastikan terjadinya infeksi virus, dan kultur sampel cairan ruam atau luka pada tubuh penderita untuk mengetahui penyebabnya, namun kedua hal tersebut jarang dilakukan.

Pengobatan Cacar Air

Cacar air yang terjadi pada penderita dengan sistem kekebalan tubuh yang baik tidak memerlukan pengobatan khusus. Namun, untuk meringankan gejala yang dialami penderita, beberapa upaya berikut ini dapat dilakukan di rumah, yaitu:

  • Banyak minum dan dan mengonsumsi makanan yang lembut dan tidak asin atau asam, terutama jika ruam cacar tedapat pada mulut.
  • Jangan menggaruk ruam atau luka cacar air, karena meningkatkan risiko infeksi. Guna mencegahnya, potong kuku hingga pendek atau kenakan sarung tangan, terutama saat malam hari.
  • Kenakan pakaian berbahan lembut dan ringan.
  • Mandi dengan air hangat, 3-4 kali sehari, selama beberapa hari setelah timbulnya ruam. Setelah itu, keringkan dengan cara tepuk-tepuk dengan handuk hingga kering.
  • Kompres ruam atau luka dengan air dingin untuk meringankan gejala gatal.
  • Beristirahat cukup dan hindari kontak dengan orang lain untuk mencegah penyebaran cacar air.

Di samping upaya mandiri di rumah, dokter juga dapat memberi salep atau obat minum, seperti antihistamin, untuk mengurangi rasa gatal. Sedangkan untuk meredakan demam dan nyeri, dokter dapat meresepkan paracetamol. Sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter jika hendak membeli obat pereda nyeri yang djual bebas di pasaran. Pemberian aspirin pada penderita cacar air tidak dianjurkan karena dapat memicu penyakit sindrom Reye. Begitu pula dengan obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen, yang dapat memicu infeksi sekunder atau kerusakan jaringan.

Di sisi lain, bagi penderita yang menggaruk ruam cacar air, maka ruam tersebut rentan mengalami infeksi bakteri. Bila terjadi infeksi bakteri sekunder, dokter dapat  memberi antibiotik yang sebetulnya tidak perlu diberikan bila menderita cacar air tanpa infeksi sekunder.

Sedangkan untuk penderita cacar air yang berisiko mengalami komplikasi, maka dokter dapat memberi obat antivirus, seperti acyclovir, valacyclovir, atau famciclovir. Obat jenis ini tidak menyembuhkan cacar air, tapi dapat menghambat aktivitas virus, sehingga gejala yang muncul lebih ringan. Dengan demikian, sistem imunitas tubuh dapat memulihkan tubuh lebih cepat.

Pasca kesembuhan dari cacar air, penderita berisiko mengalami infeksi lanjutan dari Varicella zoster yang menetap di dalam tubuh, yaitu cacar ular atau herpes zoster. Setelah sembuh dari cacar air, virus Varicella zoster akan menetap di dalam sel saraf dan dapat aktif kembali beberapa tahun kemudian dalam bentuk penyakit herpes zoster. Kemunculan cacar ular ini dialami oleh orang dewasa yang sudah terkena cacar air, terutama orang dengan sistem kekbalan tubuh yang rendah.

Pencegahan

Langkah pencegahan yang cukup efektif dalam menghindari terjadinya cacar air adalah dengan menjalani vaksinasi cacar air. Vaksinasi ini dianjurkan untuk anak kecil dan orang dewasa yang belum melakukan vaksinasi. Pada anak kecil, penyuntikan vaksin Varicella atau cacar air pertama dilakukan pada umur 12 hingga 15 bulan, dan penyuntikan lanjutan dilakukan ketika anak berusia 2 hingga 4 tahun. Sedangkan anak yang lebih besar dan dan orang dewasa perlu mendapat dua kali vaksinasi, dengan perbedaan waktu setidaknya 28 hari.

Sementara orang yang pernah mengalami cacar air tidak perlu melakukan vaksinasi, karena imunitas tubuh sudah melindunginya dari virus ini sepanjang hidup. Begitu juga dengan anak yang dilahirkan dari ibu yang pernah menderita cacar air. Imunitas tubuh ibu diturunkan kepada anaknya, melalui plasenta dan air susu ibu (ASI), selama beberapa bulan setelah kelahirannya.

Di sisi lain, vaksinasi cacar air tidak dianjurkan bagi wanita hamil, orang yang memiliki sistem imunitas lemah, serta orang yang alergi terhadap gelatin atau antibiotik neomycin . Untuk kondisi seperti itu, dianjurkan membatasi kontak dengan penderita cacar air guna mencegah penularan virus.

HERBA HNI HPAI :
 Minyak Herba Sinergi : Oleskan
 Gamat Kapsul : 3 x 2 kapsul
 Spirulina : 3 x 2 kapsul
 Madu SJ : 2 x 2 sdm

Referensi:

  • Aplikasi Resep Herba HNI
  • https://www.alodokter.com/cacar-air/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *